Pada
hari senin 18 Januari 2021 Presiden terhormat Jokowi pergi ke Kalimantan
selatan (Kalsel) untuk meninjau daerah-daerah yang terdampak banjir. Namun,
sangat disayangkan pada saat kunjungan,
statement yang keluar dari mulut Presiden tidak sesuai ekspektasi, sehingga
menimbulkan kegaduahan dan kemarahan bagi masyarakat.
Saya
membaca berita dari kompas.com, Presiden menyatakan bahwa curah hujan yang
tinggi terjadi hampir 10 hari menyebabkan sungai Bintaro tidak mampu lagi
menampung air hujan tersebut, yang pada akhirnya merendam 10 kabupaten dan
kota. Pernyataan Presiden tersebut benar-benar membuat saya tidak habis pikir.
Kok bisa salahin Hujan?
Secara
tegas saya mengatakan bahwa hujan tidak bersalah! Hujan hanya menjalankan
tugasnya untuk mencurahkan air dari langit ke bumi. Memberi minum tanah,
tumbuhan, hewan, dan semua makhluk hidup yang kehausan. Hujan itu suatu
anugerah yang harus disyukuri bukan malah diingkari, apalagi disalahkan! Jika
kita sudah berani menyalahkan hujan, berarti kita sudah menentang siklus
kehidupan! Hujan tentunya bagian dari siklus.
Kita
sama-sama mengetahui bahwa Indonesia memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan musim
kemarau. dan tentunya hal ini merupakan anugerah bagi kita, karena dengan
begitu kita memiliki iklim yang seimbang. Bahkan dengan memiliki kedua musim
ini, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman ( lagu ciptaan Yok Koesyono).
Indonesia memiliki kekayaan alam yang sungguh berlimpah, Namun sayangnya banyak
orang yang mengeksploitasi secara berlebihan.
Tulisan
saya ini mengkritik pernyataan presiden yang seakan-akan hanya menyalahkan
hujan atas banjir yang menimpa Kalimantan selatan. Beliau tidak melihat dari
perspektif lain, kenapa banjir yang sangat besar bisa menimpa Kalimantan
selatan? Bukankah Kalsel merupakan daerah yang sungguh memiliki kekayaan alam
berupa hutan yang begitu luas? Dalam SK Menhut No.435 tahun 2009 luas hutan dan
perairan Kalimantan selatan yaitu 1.779.982 ha. Wow… Sungguh luas kawasan hutan
yang ada di daerah tersebut. Akan Tetapi, kenapa banjir bisa terjadi? Bukankan
akar pohon-pohon tersebut menyerap air? Lalu kenapa masih saja banjir bisa
terjadi? Jawabannya sederhana, karena MANUSIA MENGEKSPLOITASI ALAM SECARA
BRUTAL!
Begitulah
kenyataan sesungguhnya. Manusia terlalu serakah dengan kekayaan alam, sehingga
membuat alam menangis dan merintih kesakitan. Hutan digunduli, tanah dikeruk
sesuka hati, tanaman multikultur diganti dengan tanaman monokultur, membabat
habis semak belukar yang ada di hutan, membunuh hewan-hewan langka lainnya,
sungguh kejam dan keji perbuatan manusia yang tidak bisa menghargai apalagi
berterima kasih kepada alam yang telah memberikan mereka makanan, minuman, pakaian,
perhiasan, dan sebagainya. Namun, pada akhirnya keserakahan manusia terhadap
alam semakin menjadi-jadi dan tidak terkontrol sama sekali!
Sekali
lagi saya tegaskan bahwa hujan tidak bersalah! Yang bersalah itu adalah
manusia-manusia rakus dan tamak yang tidak pernah merasa puas dan bersyukur
atas apa yang diberikan oleh alam. Hutan yang luas sudah lebih dari setengahnya
diganti dengan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Luas hutan semakin
menyempit, hewan-hewan yang tinggal di hutan merasa terancam dan takut
kehilangan tempat tinggalnya. Hal tersebut menyebabkan ekosistem berubah secara
drastis. Pohon yang awalnya memiliki fungsi menyerap air sekarang sudah
ditebang dan diganti dengan pertambangan, dan ketika hujan datang, yang disalahkan
adalah hujan itu sendiri?
Apakah kita tidak bisa melihat secara jelas
kesalahan yang kita lakukan? Sehingga akhirnya kita menyalahkan hujan? Apakah
pikiran kita benar-benar sudah tertutup kegelapan dan sikap bodoamatan akan
kondisi alam kita? Jika kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
dengan hati nurani yang paling dalam, maka kita akan menemukan kesimpulan bahwa
manusia lah penyebab utama dari segala bentuk bencana yang menimpa kita saat
ini. Manusia menggali kuburannya sendiri dengan tidak memperhatikan kondisi
alam.
Menjaga
lingkungan pada hakikatnya menjaga kemaslahatan hidup manusia. Mungkin manusia
terlalu bodo amatan memikirkan kemaslahatan tumbuhan dan hewan. Namun,
setidaknya manusia bisa berpikir, “dengan memelihara alam dan memelihara lingkungan,
kita bisa terhindar dari kerugian, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran
hutan, dan bencana lainnya.” Tidak apa-apa mungkin secara sekilas pemikiran
tersebut terbilang egois karena hanya memikirkan keselamatan manusia. Namun,
cara berpikir tersebut juga berdampak positif terhadap alam dan semua makhluk
biotik maupun abiotik yang ada di dalamnya.
Dalam
ilmu etika lingkungan (environmental
ethics) ada teori yang disebut antroposentrisme. Teori tersebut menerangkan
bahwa manusia merasa dirinya terpisah dari alam, bukan bagian dari alam. Namun,
merupakan pusat alam ini, sehingga manusia bisa berbuat seenaknya terhadap
alam. Tanpa manusia alam tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Sungguh hal
yang menyedihkan jika kita menganggap diri kita bukan bagian dari alam.
Selanjutnya ada teori ekosentrisme yang menerangkan bahwa manusia merupakan
bagian yang tidak terpisah dari alam, manusia mencintai alam dan semua
ekosistem di dalamnya, sehingga manusia akan senantiasa menjaga alam sebagaimana
dia menjaga keluarganya.
Seharusnya
teori ekosentrisme yang wajib kita terapkan bukan malah antroposentrisme yang
dapat menyebabkan kerusakan alam.

No comments:
Post a Comment