Sunday, February 14, 2021

Kok Salahin Hujan? Salahin Tuh Manusia Rakus yang Mengeksploitasi Alam!


Kok Salahin Hujan? Salahin Tuh Manusia Rakus yang Mengeksploitasi Alam!


Pada hari senin 18 Januari 2021 Presiden terhormat Jokowi pergi ke Kalimantan selatan (Kalsel) untuk meninjau daerah-daerah yang terdampak banjir. Namun, sangat disayangkan pada saat kunjungan, statement yang keluar dari mulut Presiden tidak sesuai ekspektasi, sehingga menimbulkan kegaduahan dan kemarahan bagi masyarakat.

Saya membaca berita dari kompas.com, Presiden menyatakan bahwa curah hujan yang tinggi terjadi hampir 10 hari menyebabkan sungai Bintaro tidak mampu lagi menampung air hujan tersebut, yang pada akhirnya merendam 10 kabupaten dan kota. Pernyataan Presiden tersebut benar-benar membuat saya tidak habis pikir. Kok bisa salahin Hujan?

Secara tegas saya mengatakan bahwa hujan tidak bersalah! Hujan hanya menjalankan tugasnya untuk mencurahkan air dari langit ke bumi. Memberi minum tanah, tumbuhan, hewan, dan semua makhluk hidup yang kehausan. Hujan itu suatu anugerah yang harus disyukuri bukan malah diingkari, apalagi disalahkan! Jika kita sudah berani menyalahkan hujan, berarti kita sudah menentang siklus kehidupan! Hujan tentunya bagian dari siklus.

Kita sama-sama mengetahui bahwa Indonesia memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. dan tentunya hal ini merupakan anugerah bagi kita, karena dengan begitu kita memiliki iklim yang seimbang. Bahkan dengan memiliki kedua musim ini, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman ( lagu ciptaan Yok Koesyono). Indonesia memiliki kekayaan alam yang sungguh berlimpah, Namun sayangnya banyak orang yang mengeksploitasi secara berlebihan.

Tulisan saya ini mengkritik pernyataan presiden yang seakan-akan hanya menyalahkan hujan atas banjir yang menimpa Kalimantan selatan. Beliau tidak melihat dari perspektif lain, kenapa banjir yang sangat besar bisa menimpa Kalimantan selatan? Bukankah Kalsel merupakan daerah yang sungguh memiliki kekayaan alam berupa hutan yang begitu luas? Dalam SK Menhut No.435 tahun 2009 luas hutan dan perairan Kalimantan selatan yaitu 1.779.982 ha. Wow… Sungguh luas kawasan hutan yang ada di daerah tersebut. Akan Tetapi, kenapa banjir bisa terjadi? Bukankan akar pohon-pohon tersebut menyerap air? Lalu kenapa masih saja banjir bisa terjadi? Jawabannya sederhana, karena MANUSIA MENGEKSPLOITASI ALAM SECARA BRUTAL!

Begitulah kenyataan sesungguhnya. Manusia terlalu serakah dengan kekayaan alam, sehingga membuat alam menangis dan merintih kesakitan. Hutan digunduli, tanah dikeruk sesuka hati, tanaman multikultur diganti dengan tanaman monokultur, membabat habis semak belukar yang ada di hutan, membunuh hewan-hewan langka lainnya, sungguh kejam dan keji perbuatan manusia yang tidak bisa menghargai apalagi berterima kasih kepada alam yang telah memberikan mereka makanan, minuman, pakaian, perhiasan, dan sebagainya. Namun, pada akhirnya keserakahan manusia terhadap alam semakin menjadi-jadi dan tidak terkontrol sama sekali!

Sekali lagi saya tegaskan bahwa hujan tidak bersalah! Yang bersalah itu adalah manusia-manusia rakus dan tamak yang tidak pernah merasa puas dan bersyukur atas apa yang diberikan oleh alam. Hutan yang luas sudah lebih dari setengahnya diganti dengan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Luas hutan semakin menyempit, hewan-hewan yang tinggal di hutan merasa terancam dan takut kehilangan tempat tinggalnya. Hal tersebut menyebabkan ekosistem berubah secara drastis. Pohon yang awalnya memiliki fungsi menyerap air sekarang sudah ditebang dan diganti dengan pertambangan, dan ketika hujan datang, yang disalahkan adalah hujan itu sendiri?

 Apakah kita tidak bisa melihat secara jelas kesalahan yang kita lakukan? Sehingga akhirnya kita menyalahkan hujan? Apakah pikiran kita benar-benar sudah tertutup kegelapan dan sikap bodoamatan akan kondisi alam kita? Jika kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan hati nurani yang paling dalam, maka kita akan menemukan kesimpulan bahwa manusia lah penyebab utama dari segala bentuk bencana yang menimpa kita saat ini. Manusia menggali kuburannya sendiri dengan tidak memperhatikan kondisi alam.

Menjaga lingkungan pada hakikatnya menjaga kemaslahatan hidup manusia. Mungkin manusia terlalu bodo amatan memikirkan kemaslahatan tumbuhan dan hewan. Namun, setidaknya manusia bisa berpikir, “dengan memelihara alam dan memelihara lingkungan, kita bisa terhindar dari kerugian, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan bencana lainnya.” Tidak apa-apa mungkin secara sekilas pemikiran tersebut terbilang egois karena hanya memikirkan keselamatan manusia. Namun, cara berpikir tersebut juga berdampak positif terhadap alam dan semua makhluk biotik maupun abiotik yang ada di dalamnya.

Dalam ilmu etika lingkungan (environmental ethics) ada teori yang disebut antroposentrisme. Teori tersebut menerangkan bahwa manusia merasa dirinya terpisah dari alam, bukan bagian dari alam. Namun, merupakan pusat alam ini, sehingga manusia bisa berbuat seenaknya terhadap alam. Tanpa manusia alam tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Sungguh hal yang menyedihkan jika kita menganggap diri kita bukan bagian dari alam. Selanjutnya ada teori ekosentrisme yang menerangkan bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisah dari alam, manusia mencintai alam dan semua ekosistem di dalamnya, sehingga manusia akan senantiasa menjaga alam sebagaimana dia menjaga keluarganya.

Seharusnya teori ekosentrisme yang wajib kita terapkan bukan malah antroposentrisme yang dapat menyebabkan kerusakan alam.

 

 

No comments:

Post a Comment

Self Awareness dan Pengaruh Media Sosial

Tidak terlalu berlebihan memang menyebutkan bahwa “kadangkala mahasiswa dilema dengan masa depan yang menanti mereka”. Tujuan hidup yang tak...